Madaniah
Perintah untuk mewujudkan kekhalifahan di muka bumi dengan cara menerapkan ajaran Islam, perintah untuk berserah diri kepada Allah, dan peringatan dari kondisi Bani Israil.
Surah ini dinamakan surah Al-Baqarah (Sapi Betina) karena menceritakan kisah tentang sapi betina milik kaum Bani Israil.
(١) الٓمٓ
Alif Lām Mīm. Huruf-huruf ini digunakan sebagai pembuka beberapa surah Al-Qur`ān. Ini adalah huruf hijaiyah yang tidak mempunyai makna tersendiri karena dituliskan secara terpisah, seperti: alif, ba, ta dan seterusnya. Dalam huruf-huruf ini terdapat hikmah dan tujuan, karena tidak ada sesuatu pun di dalam Al-Qur`ān yang tidak memiliki hikmah. Di antara hikmahnya yang paling menonjol ialah untuk mengisyaratkan tantangan Allah dengan Al-Qur`ān yang terdiri dari huruf-huruf yang membentuk kata-kata yang mereka ketahui dan mereka gunakan untuk berbicara. Oleh karena itu, pada umumnya huruf-huruf hijaiyah tersebut diikuti dengan penyebutan tentang Al-Qur`ān Al-Karīm, seperti yang ada di dalam surah ini.
(٢) ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ
Al-Qur`ān yang agung itu tidak ada keraguan di dalamnya, baik dari segi proses turunnya maupun lafal dan maknanya. Al-Qur`ān adalah firman Allah yang membimbing orang-orang bertakwa ke jalan yang menghantarkan mereka kepada-Nya.
(٣) ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ
3 - 4. (Orang- orang yang bertakwa itu adalah) orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, yaitu segala sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh pancaindra dan tersembunyi yang diberitakan oleh Allah atau Rasulullah seperti hari Akhir, orang-orang yang mendirikan salat, yakni menunaikannya sesuai ketentuan syariat yang meliputi syarat, rukun, wajib dan sunahnya, dan orang-orang yang gemar menginfakkan sebagian rezeki yang mereka terima dari Allah, baik yang sifatnya wajib seperti zakat, maupun yang tidak wajib seperti sedekah, demi mengharap pahala dari Allah. Mereka juga orang-orang yang beriman kepada wahyu yang Allah turunkan kepadamu –wahai Nabi- dan wahyu yang Dia turunkan kepada para nabi -'alaihimussalām- sebelum kamu, tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Dan mereka juga beriman secara Mantap akan adanya akhirat beserta ganjaran dan hukuman yang ada di dalamnya.
(٤) وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ
3 - 4. (Orang-orang yang bertakwa itu adalah) orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, yaitu segala sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh pancaindra dan tersembunyi yang diberitakan oleh Allah atau Rasulullah seperti hari Akhir, orang-orang yang mendirikan salat, yakni menunaikannya sesuai ketentuan syariat yang meliputi syarat, rukun, wajib dan sunahnya, dan orang-orang yang gemar menginfakkan sebagian rezeki yang mereka terima dari Allah, baik yang sifatnya wajib seperti zakat, maupun yang tidak wajib seperti sedekah, demi mengharap pahala dari Allah. Mereka juga orang-orang yang beriman kepada wahyu yang Allah turunkan kepadamu –wahai Nabi- dan wahyu yang Dia turunkan kepada para nabi -'alaihimussalām- sebelum kamu, tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Dan mereka juga beriman secara tegas akan adanya akhirat beserta ganjaran dan hukuman yang ada di dalamnya.
(٥) أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
Orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut telah mengikuti jalan kebenaran dengan mantap. Merekalah orang-orang yang beruntung di dunia dan di Akhirat. Karena mereka akan mendapatkan apa yang mereka harapkan dan selamat dari apa yang mereka takutkan.
· Keyakinan mutlak tentang tidak adanya keraguan di dalam Al-Qur`ān adalah bukti bahwa Al-Qur`ān itu datang dari sisi Allah karena tidak mungkin bagi seorang makhluk untuk mengklaim hal tersebut dalam ucapannya.
Tidak mungkin mendapatkan manfaat dari petunjuk-petunjuk agung yang ada di dalam Al-Qur`ān al-Karīm Kecuali orang-orang yang bertakwa kepada Allah -Ta'ālā- dan senantiasa mengagungkan-Nya.
· Di antara tingkat tertinggi dalam keimanan ialah keimanan kepada perkara yang gaib karena hal itu mengandung kepasrahan total kepada Allah -Ta'ālā- dalam semua perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah, dan kepasrahan kepada Rasulullah dalam semua perkara gaib yang beliau sampaikan.
· Acapkali Allah -Ta'ālā- menyebut salat dan zakat secara bersamaan karena salat adalah keikhlasan kepada Tuhan, sedangkan zakat adalah kebaikan kepada sesama. Keduanya merupakan simbol kebahagiaan dan keselamatan.
Beriman kepada Allah -Ta'ālā- dan beramal saleh akan menghasilkan petunjuk dan pertolongan di dunia, dan mendapatkan kemenangan dan keberuntungan di akhirat.